Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bisnis » Tujuh Perempuan Penjaga Hutan Bawa Cerita Kepemimpinan dan Penghidupan dari Hutan Indonesia ke Bangkok Climate Action Week 2026

Tujuh Perempuan Penjaga Hutan Bawa Cerita Kepemimpinan dan Penghidupan dari Hutan Indonesia ke Bangkok Climate Action Week 2026

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tujuh perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat memperkenalkan kerja mereka memimpin pengelolaan hutan, memantau kawasan, dan mengembangkan usaha dari hasil hutan dalam Jamuan Puan Rimba di JAVARA Culture Jakarta, Rabu (30/9/2026). Jamuan ini digelar The Asia Foundation (TAF) melalui program Women Forest Defenders (WFD), bersama JAVARA dan Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia, dengan menu dari bahan pangan hutan ketiga provinsi. Mereka merupakan bagian dari 171 perempuan yang aktif menjaga hutan melalui WFD, dan 42 di antaranya kini duduk di posisi pengambil keputusan. Di empat provinsi, program ini mencatat 24.292 hektare hutan dikelola dengan perempuan ikut memimpin, 16 usaha perempuan berbasis hutan, dan 11 kelompok pemantau hutan dipimpin perempuan. Pendampingan dilakukan bersama mitra lokal Yayasan PIONIR Bulungan, PINUS, dan KONSEPSI. Pada 3–4 Oktober 2026, ketujuh perempuan ini membawa cerita dan cita rasa hutan Indonesia ke Bangkok Climate Action Week 2026 di Glass House Pavilion, Taman Lumpini, dan Restoran Bo.lan, Bangkok.

Jakarta, 30 September 2026 – Tujuh perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat memperkenalkan kerja mereka dalam memimpin pengelolaan hutan, memantau kawasan, dan mengembangkan usaha dari hasil hutan di Jamuan Puan Rimba, JAVARA Culture Jakarta, Rabu (30/9).  Ketujuhnya merupakan bagian dari 171 perempuan yang kini aktif menjaga hutan di 4 provinsi (sumatera barat, kalimantan utara, nusa tenggara barat dan sumatera selatan) dan level nasional melalui program Women Forest Defenders (WFD) dari The Asia Foundation (TAF). Sebanyak 42 di antaranya duduk di posisi pengambil keputusan. Pekan ini, mereka membawa cerita yang sama ke Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026.

Jamuan ini digelar TAF bersama Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia sebagai pintu masuk untuk melihat model ekonomi regeneratif yang memberi ruang bagi perempuan untuk terlibat secara bermakna. Menu jamuan meja panjang siang ini disusun dari bahan pangan hutan ketiga provinsi dan dinarasikan oleh Founder JAVARA dan Sekolah Seniman Pangan, Helianti Hilman. Hutan di sekitar Long Sam, Kalimantan Utara, misalnya, menyimpan buah payang yang diolah menjadi sambal, daun bekai sebagai penyedap alami, dan beras subut. 

Noviana Liling dari Desa Long Sam, Kabupaten Bulungan, mulai terlibat dalam pengelolaan hasil hutan sejak desanya mendapat izin mengelola hutan desa selama 35 tahun pada 2017, didampingi Yayasan PIONIR Bulungan dan TAF. Pada April 2025, ia ikut mendirikan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) perempuan pertama di Kalimantan Utara, dengan modal awal lima butir kelapa dari setiap anggota. Kini KUPS Femung Himet yang dipimpinnya memproduksi minyak kelapa murni, tenun, dan topi anyaman, dan sebagian produknya sudah bersertifikat halal. Lewat pelatihan, para anggotanya juga belajar mengolah buah kuini yang dulu dibiarkan jatuh dan membusuk menjadi selai.

“Dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan adanya pelatihan ini, kami bisa menambah pengetahuan untuk membuat selai,” ujar Ketua KUPS Femung Himet, Noviana Liling.

Masih di Kabupaten Bulungan, Raberti dari Desa Antutan menganyam rotan, bambu, dan pandan menjadi tas untuk membantu biaya sekolah anak. Kini anyaman kelompoknya dijual sampai ke luar Kalimantan Utara.

Di lapangan, pendampingan dilakukan oleh mitra lokal, yaitu Yayasan PIONIR Bulungan di Kalimantan Utara, Perkumpulan Pilar Nusantara (PINUS) di Sumatera Selatan, dan Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) di Nusa Tenggara Barat. Pendampingan mencakup penguatan organisasi, kepemimpinan, pemantauan hutan, dan pengolahan hasil hutan bukan kayu. Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia membantu pengembangan produk dan akses pasar, sementara Forum Perempuan Penjaga dan Pengelola Hutan Indonesia (FP3HI) membawa pengalaman dari desa ke ruang advokasi yang lebih luas.

Di Semende, Sumatera Selatan, menjaga hutan terkait erat dengan adat. Tessa Pranisti adalah seorang Tunggu Tubang, sebutan dalam adat Semende bagi anak perempuan tertua yang akan mewarisi rumah, tanah, dan sawah keluarga. Kini ia mengajak perempuan dan anak muda desanya melakukan pemantauan hutan.

Di Desa Penyandingan, Kabupaten Muara Enim, Ani Tasriah, yang dulu tidak pernah berorganisasi, kini menjadi Sekretaris Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Ghimbe Peramunan. Ia mendirikan KUPS Perempuan Anak Belai, kelompok perhutanan sosial perempuan pertama di Sumatera Selatan, dan mengajak delapan perempuan masuk kepengurusan LPHA. Kopi kelompoknya, Ghimbe Coffee, sudah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Di Desa Tanjung Agung, Fitri memimpin KUPS Perempuan Muara Jaya yang menjual Kopi Gwatu, minuman rempah, dan kain ecoprint. Anggotanya kini memiliki penghasilan dan tabungan sendiri.

Di Desa Karang Sidemen, Nusa Tenggara Barat, salak dan nangka hutan dulu tidak dilirik warga. Kelompok yang dipimpin Lilik Ernawati justru melihatnya sebagai peluang, di samping mengelola kopi, madu, dan ekowisata. Pemerintah desa pun menerbitkan surat keputusan yang mengakui peran perempuan dalam pengelolaan kawasan hutan.

Perubahan juga terjadi di ruang keputusan. Di Desa Aik Berik, Kabupaten Lombok Tengah, Marwita membesarkan anaknya seorang diri dari kebun kopi di kaki Gunung Rinjani. Kini ia memimpin KUPS Benang Stokel yang beranggota 15 orang dan mengolah kopi, keripik, minuman, serta selai. Pada 28 Juni 2026, warga memilihnya sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Aik Berik periode 2026 sampai 2034.

“Perubahan yang paling luar biasa adalah tumbuhnya rasa percaya diri saya. Dari yang dulu hanya seorang ibu kepala keluarga yang tidak berani berpendapat, kini saya berani berbicara di depan umum, aktif memimpin kegiatan, dan ikut mengambil keputusan penting dalam kelompok,” ujar Ketua KUPS Benang Stokel dan Anggota BPD Aik Berik, Kabupaten Lombok Tengah, Marwita.

Cerita ini penting karena hutan yang menyimpan ragam pangan terus berkurang. Indonesia kehilangan 433.751 hektare hutan alam pada 2025, naik 66 persen dari tahun sebelumnya (Auriga Nusantara, 2026). Sebagian dibuka untuk kebun kayu, tambang, dan sawit. Padahal Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat, 228 jenis sayuran, dan 389 jenis buah (Badan Pangan Nasional, 2024). Di tingkat global, hampir sepertiga emisi gas rumah kaca berasal dari sistem pangan dan lebih dari 40 persennya berasal dari Asia (FAO, 2025). Hampir seperlima emisi sistem pangan itu datang dari pembukaan hutan, kebakaran, dan kerusakan gambut untuk lahan pertanian (FAO, 2024).

Di tingkat desa, tantangan masih ada. Alat produksi masih manual, ongkos kirim ke kota mahal, dan perempuan masih jarang diundang dalam rapat soal hutan. Secara nasional, dari 15.769 KUPS yang ada, baru 120 yang masuk kategori tertinggi (Kementerian Kehutanan, 2025).

“Perempuan di komunitas punya pengetahuan yang unik tentang hutan. Persoalannya, akses ke informasi, ruang pengambilan keputusan, dan sumber daya untuk menjalankan usaha belum setara. Karena itu, bersama mitra lokal kami bekerja di tiga hal yang saling terhubung: posisi perempuan dalam kelembagaan, pemantauan kawasan, dan kelola usaha yang adil dan memberi manfaat tidak hanya sekedar menambah beban kerja mereka,” ujar Program Officer Tata Kelola Lingkungan The Asia Foundation, Dorta Pardede.

Di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat, program WFD mencatat 24.292 hektare hutan dikelola dengan perempuan ikut memimpin, 16 usaha berbasis hutan yang dipimpin perempuan sudah menghasilkan pendapatan, 11 kelompok pemantau hutan dipimpin perempuan, dan 21 izin usaha yang membuka akses perempuan ke pasar (The Asia Foundation, 2026).

“Perempuan di desa hutan sudah lama menjaga hutan dan dapur keluarganya. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk ikut memutuskan. Peran kami adalah mempertemukan mereka dengan mitra lokal, pemerintah, dan pasar, supaya perubahan di desa terus berjalan,” ujar Direktur Tata Kelola Lingkungan The Asia Foundation, Frans Siahaan.

Menurutnya, konsumen di kota juga memiliki peran. “Jamuan ini cara sederhana untuk menunjukkan hubungan antara piring kita dan hutan. Setiap orang yang memilih pangan dari hutan yang dijaga ikut menjaga hutannya,” tambah Frans.

Para perempuan sudah mulai menjual produk mereka di pasar lokal dan melalui media sosial dengan sistem pesanan. Sebagian produk juga dijual lewat JAVARA.

“Kalau bicara gastronomi Indonesia, kita harus mulai dari bentang alam. Dari sanalah lahir keragaman pangan dan budaya kuliner kita. Pangan dari hutan dan berbagai ekosistem lainnya relevan bagi konsumen kota yang membutuhkan pilihan pangan lebih beragam untuk pola konsumsi yang lebih sehat. Kuncinya adalah menghadirkan produk asal hutan secara berkualitas, dengan cita rasa yang punya daya pembeda dan relevan bagi konsumen, sehingga nilai yang tercipta di pasar dapat kembali ke komunitas dan desa asalnya,” ujar Helianti.

Pada 3 dan 4 Oktober, ketujuh perempuan ini akan menghadirkan cerita tentang kepemimpinan perempuan, pemantauan hutan, advokasi, dan usaha dari hasil hutan, bersama cita rasa hutan Indonesia. Semuanya hadir dalam program Women Forest Defenders bertajuk Watching the Forest, Growing the Future di Glass House Pavilion, Taman Lumpini, dan Restoran Bo.lan, Bangkok. Di Bo.lan, Chef Bo Songvisava akan memadukan bahan pangan hutan Indonesia dengan bahan dan teknik masak Thailand.

Di Bangkok Climate Action Week, ketujuh perempuan ini akan berbagi pengetahuan dari kerja mereka di komunitas: memantau hutan, memimpin kelompok, ikut menentukan pengelolaan kawasan, dan mengembangkan penghidupan. Melalui diskusi, pameran, pengalaman virtual, dan Jamuan Puan Rimba, pengalaman perempuan penjaga hutan di Indonesia menjadi bagian dari percakapan regional tentang pengelolaan hutan dan aksi iklim.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • MODB BINUS UNIVERSITY Pertemukan Karya Master Designer dengan Industri Kreatif melalui ‘The Convergence of Design’

    MODB BINUS UNIVERSITY Pertemukan Karya Master Designer dengan Industri Kreatif melalui ‘The Convergence of Design’

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Program Master of Design BINUS UNIVERSITY untuk pertama kalinya menyelenggarakan MODB 2026: First Wave – The Convergence of Design, sebuah agenda tahunan yang mempertemukan karya, gagasan, dan inovasi para Master Designer dengan industri serta masyarakat luas. Berlangsung pada 19-22 Agustus 2026 di BINUS International @FX Sudirman, Jakarta, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengeksplorasi peran desain […]

  • BRI Finance Bukukan Pertumbuhan Laba 89% hingga Juli 2026, Perkuat Pertumbuhan Berkualitas

    BRI Finance Bukukan Pertumbuhan Laba 89% hingga Juli 2026, Perkuat Pertumbuhan Berkualitas

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Jakarta, 21 Agustus 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 89% secara year-on-year (YoY) hingga Juli 2026. Kinerja tersebut mencerminkan strategi Perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas pembiayaan, efisiensi operasional, dan pengelolaan risiko. Pencapaian tersebut diraih di tengah dinamika industri pembiayaan dan perubahan lanskap pasar yang terus berkembang. […]

  • Membangun Pendidikan Inklusif, Ikhtiar Memperluas Akses Belajar Anak Penyandang Disabilitas

    Membangun Pendidikan Inklusif, Ikhtiar Memperluas Akses Belajar Anak Penyandang Disabilitas

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 24
    • 0Komentar

    JAKARTA — Pendidikan yang inklusif masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Tidak sedikit anak penyandang disabilitas yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas belajar, pendampingan, hingga layanan terapi yang memadai. Padahal, kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas merupakan hak setiap anak tanpa terkecuali. Berangkat dari kebutuhan tersebut, sejumlah anggota Grup MIND ID mengembangkan program pendidikan inklusif […]

  • Tokocrypto Raih Penghargaan Kategori Press Conference di Media Relations Awards 2026

    Tokocrypto Raih Penghargaan Kategori Press Conference di Media Relations Awards 2026

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Jakarta, 31 Agustus 2026 – Tokocrypto meraih penghargaan kategori Press Conference dalam ajang Media Relations Awards (MRA) 2026 yang diselenggarakan oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) pada Jumat (31/7/2026). Penghargaan ini diberikan atas penyelenggaraan Indonesia Crypto Outlook (ICO), yang dikembangkan sebagai platform komunikasi yang tidak hanya mempertemukan Tokocrypto dengan media, tetapi juga melibatkan berbagai stakeholder dalam […]

  • Bitcoin Masih Berisiko Turun ke US.000, Meski Peluang Rebound Belum Tertutup

    Bitcoin Masih Berisiko Turun ke US$50.000, Meski Peluang Rebound Belum Tertutup

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Jakarta, 28 Juni 2026 – FLOQ merilis laporan Market Outlook pekan keempat Juni 2026 yang menunjukkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi setelah Bitcoin (BTC) kehilangan level psikologis US$60.000. Meskipun harga sempat pulih ke kisaran US$62.000, FLOQ menilai pergerakan tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Tekanan terhadap pasar kripto saat […]

  • Hari Danau Sedunia: Merayakan Danau Toba, Tempat Alam, Warisan, dan Masyarakat Bersatu

    Hari Danau Sedunia: Merayakan Danau Toba, Tempat Alam, Warisan, dan Masyarakat Bersatu

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Setiap tanggal 27 Agustus, dunia memperingati Hari Danau Sedunia (World Lake Day). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan peringatan ini melalui resolusi yang diprakarsai oleh Indonesia. Perayaan global pertama Hari Danau Sedunia berlangsung pada 2025. Hari Danau Sedunia meningkatkan kesadaran akan pentingnya danau di seluruh dunia. Peringatan ini juga mendorong upaya untuk melindungi, menjaga, dan memulihkan ekosistem […]

expand_less