Kopi, Catur, dan Visi Besar, Kedekatan Yulius Selvanus yang Mengubah Wajah Sulawesi Utara
- account_circle B01
- calendar_month Senin, 8 Jun 2026
- visibility 245
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Manado, BATALYONWARTA.COM
Dalam panggung pemerintahan daerah, publik terbiasa melihat sosok pemimpin yang sibuk merancang kebijakan dari balik meja atau sekadar hadir memotong pita peresmian. Namun, ada kalanya pendekatan birokrasi yang kaku itu luluh oleh gaya kepemimpinan yang lebih humanis dan menyentuh akar rumput. Di Sulawesi Utara, ritme kepemimpinan yang berbeda itu tengah ditunjukkan oleh Gubernur Yulius Selvanus.
Belakangan ini, ada serangkaian langkah dan kehadiran sang Gubernur yang patut dibaca lebih dari sekadar agenda rutin pemerintahan. Tiga peristiwa berbeda—penyelamatan museum, perhelatan olahraga nasional, hingga kehadirannya di tengah perayaan warga—menjadi gambaran utuh tentang bagaimana visi strategis bisa berjalan beriringan dengan kedekatan sosial.
Langkah paling berani dan cukup mengejutkan publik mungkin terlihat pada keputusannya terkait Museum Sulawesi Utara. Sempat ramai dikabarkan nyaris beralih fungsi bahkan dijual, aset bersejarah ini justru diambil alih untuk direvitalisasi menjadi destinasi budaya modern yang megah dan fungsional.
Dalam kacamata kebijakan publik, ini bukan sekadar urusan menyelamatkan bangunan fisik. Ini adalah upaya sadar pemerintah untuk merawat ingatan kolektif masyarakatnya. Yulius seolah mengirimkan pesan tegas bahwa kemajuan zaman dan pembangunan daerah tidak boleh menukar identitas kebanggaan tanah Nyiur Melambai. Museum yang dulunya berkesan usang kini disiapkan menjadi ruang publik yang hidup, membuktikan bahwa masa lalu bisa dikemas apik untuk mendukung pariwisata masa depan.
Namun, visi besar di atas kertas tidak akan berarti tanpa kemampuan seorang pemimpin menyelami denyut nadi warganya. Karakter merakyat itu terlihat sangat natural ketika Gubernur Yulius hadir di perayaan Hari Persatuan Pria Kaum Bapa (PKB) GMIM 2026.
Alih-alih sekadar membuka lomba gerak jalan lalu pulang meninggalkan lokasi dengan iring-iringan ajudan, ia memilih menanggalkan sekat jabatannya. Sang Gubernur turun langsung ke gelanggang, ikut bertanding catur dan tenis meja bersama warga jemaat yang hadir. Bagi masyarakat, melihat orang nomor satu di daerahnya ikut memeras otak di atas papan catur adalah pemandangan langka. Kedekatan semacam ini adalah investasi sosial yang mahal; ia meruntuhkan dinding tebal birokrasi dan membangun rasa saling percaya bahwa pemerintah benar-benar hadir sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat.
Di sisi lain, kepemimpinan yang baik juga harus bisa memastikan roda ekonomi warga terus berputar. Peran ini diambil oleh sang Gubernur lewat dukungannya pada ajang Seleksi Kejurnas Pacuan Kuda 2026 di Tompaso. Event berskala nasional yang berlangsung aman, tertib, dan meriah ini membuktikan kapasitas pemerintah daerah sebagai ujung tombak “pemasaran” potensi daerah.
Yulius tahu betul cara memanfaatkan ajang olahraga sebagai etalase pariwisata. Ketika sebuah acara besar sukses digelar, dampaknya langsung terasa di lapisan terbawah. Penginapan penuh, UMKM lokal laris manis, dan masyarakat menyambutnya dengan gembira. Ia berhasil menjadikan Tompaso bukan hanya sekadar arena pacuan kuda, melainkan panggung untuk memamerkan keramahtamahan dan kesiapan Sulawesi Utara menggelar hajatan bergengsi.
Rangkaian peristiwa ini—merawat sejarah dari ancaman kehilangan, melebur tanpa jarak di arena olahraga warga, dan membuka peluang ekonomi lewat event nasional—menjadi semacam cetak biru kepemimpinan Yulius Selvanus yang patut diapresiasi.
Kombinasi antara ketegasan menjaga aset daerah dan keluwesan merangkul rakyat memunculkan harapan baru. Di tengah berbagai tantangan pembangunan ke depan, pendekatan seperti inilah yang dibutuhkan. Jika sang pemimpin sudah turun tangan langsung menjaga identitas budaya dan menggerakkan ekonomi masyarakatnya, rasanya wajar jika kini warga Sulawesi Utara merasa lebih tergugah untuk ikut ambil bagian. Bersama kepemimpinan yang mau berkeringat di lapangan dan bekerja dengan hati, jalan menuju Nyiur Melambai yang maju, sejahtera, dan berbudaya terasa semakin nyata untuk diwujudkan bersama.
- Penulis: B01

