Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bisnis » Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh?

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh?

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Gurjit Singh*

Jakarta — Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat menghadirkan peluang untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling belum dimanfaatkan secara optimal di Asia. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, dan suara penting bagi Global South, India dan Indonesia selama ini belum sepenuhnya memaksimalkan potensi hubungan bilateral mereka.

Karena itu, kunjungan ini berpotensi menjadi titik balik yang penting. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud apabila kedua negara mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antar masyarakat.

Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis

Hubungan kedua negara memperoleh momentum penting saat Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Lima kesepakatan yang mencakup bidang kesehatan, pengobatan tradisional, kerja sama digital, keamanan maritim, dan pertukaran budaya menunjukkan semakin luasnya agenda bilateral.

Kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu utama dalam perayaan Hari Republik India juga menegaskan meningkatnya arti penting Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India.

Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap muncul: apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar dalam hubungan kedua negara?

Jawabannya bergantung pada kemampuan India dan Indonesia untuk mengubah hubungan yang selama ini banyak didorong oleh kedekatan diplomatik menjadi hubungan yang didasarkan pada saling ketergantungan ekonomi dan teknologi.

Fondasi yang Sudah Terbangun

Secara historis, India dan Indonesia memiliki hubungan peradaban yang kuat dan saling pengertian politik yang mendalam. Kerja sama dalam perjuangan antikolonial, semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap tatanan dunia yang lebih multipolar telah menciptakan fondasi hubungan yang kokoh.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perkembangan positif juga terlihat. Kerja sama maritim dan angkatan laut terus berkembang melalui patroli dan latihan bersama. Hubungan pertahanan semakin erat, termasuk meningkatnya ketertarikan Indonesia terhadap peralatan pertahanan India. Pertukaran budaya dan pendidikan juga terus meningkat, termasuk dukungan India terhadap pelestarian kompleks Candi Prambanan.

Selain itu, investasi India di Indonesia mulai bertumbuh, pembahasan mengenai mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal terus berjalan, dan kerja sama antara Penjaga Pantai India dengan BAKAMLA Indonesia semakin diperkuat.

Namun demikian, perdagangan bilateral masih berada di bawah potensi yang sesungguhnya. Investasi India di Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan China, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Hubungan India-Indonesia kerap digambarkan sebagai hubungan yang penting secara strategis, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi.

Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda

Sejumlah perkembangan global menjadikan momentum saat ini sangat berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

Kepemimpinan Global South

India dan Indonesia semakin memandang diri mereka sebagai pemimpin Global South. Sebagai dua negara berkembang besar, keduanya memiliki kepentingan bersama dalam reformasi tata kelola global, pembiayaan iklim, pendanaan pembangunan, ketahanan pangan, serta akses terhadap teknologi.

Di tengah globalisasi yang menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, India dan Indonesia memiliki kesempatan untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi yang lebih inklusif.

Berbeda dengan banyak kerja sama Global South yang sering kali hanya bersifat retoris, India dan Indonesia memiliki skala ekonomi dan pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk memengaruhi berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, dan ASEAN.

Ketahanan Pangan dan Energi

Kedua negara juga menghadapi tantangan yang serupa dalam menghadapi inflasi pangan, fluktuasi harga energi, dan dampak perubahan iklim.

Indonesia merupakan produsen penting komoditas seperti minyak sawit, nikel, dan batu bara, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama dalam pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, dan cadangan strategis dapat meningkatkan ketahanan kedua negara.

Ketahanan pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar terkuat kerja sama masa depan karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, bukan sekadar pertimbangan politik jangka pendek.

Peluang Besar di Bidang Maritim dan Pertahanan

Dimensi maritim mungkin menawarkan peluang strategis yang paling besar.

Indonesia berada di jalur strategis Selat Malaka, Selat Lombok, dan Selat Sunda, yang merupakan salah satu titik paling penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Sementara itu, India terus memperkuat keterlibatan maritimnya di kawasan timur melalui kebijakan Act East dan strategi Indo-Pasifik.

Kedua negara memiliki berbagai kepentingan yang sama, mulai dari kebebasan navigasi, peningkatan kesadaran domain maritim, penanggulangan penangkapan ikan ilegal, pemberantasan pembajakan dan kejahatan lintas negara, pengamanan rantai pasok, hingga respons terhadap bencana.

Tahap berikutnya dari kerja sama maritim seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan bersama. Kolaborasi industri pertahanan, fasilitas pemeliharaan, produksi bersama, serta transfer teknologi dapat menjadi agenda yang lebih strategis.

Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi pemasok pertahanan juga membuka peluang yang lebih besar bagi sistem dan platform pertahanan India.

Kemitraan Digital yang Berpotensi Mengubah Permainan

Bidang yang mungkin paling menjanjikan adalah kerja sama digital.

Peluncuran Indonesia Open Network (ION), yang terinspirasi oleh Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, mencerminkan transfer pengetahuan yang penting dalam bidang infrastruktur digital publik.

Keberhasilan India dalam membangun berbagai digital public goods, mulai dari sistem identitas digital hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian dunia. Dengan ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, Indonesia menjadi mitra yang ideal untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut.

Kerja sama digital ke depan dapat mencakup pembangunan infrastruktur digital publik, pengembangan kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi finansial, digitalisasi UMKM, serta pengembangan keterampilan digital.

Di tengah persaingan teknologi global yang semakin intensif, kemitraan digital India dan Indonesia berpotensi menjadi model kerja sama baru bagi negara-negara Global South.

Tantangan yang Masih Menghambat

Meski terdapat optimisme, sejumlah kendala masih menghambat kemajuan hubungan kedua negara.

Kurangnya Pemahaman

Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya pemahaman kedua negara satu sama lain.

Banyak pelaku bisnis India justru lebih memahami Eropa, Amerika Utara, atau negara-negara Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia masih melihat India terutama melalui lensa sejarah dan budaya.

Institusi yang mendorong pertukaran pemikiran secara berkelanjutan masih sangat terbatas. Karena itu, penguatan think tank, jaringan akademik, dan lembaga penghubung menjadi kebutuhan yang mendesak.

Persoalan Persepsi

Sebagian pemangku kepentingan di Indonesia juga menilai bahwa beberapa pihak di India masih memandang hubungan bilateral melalui perspektif “senioritas peradaban” dengan terlalu menekankan pengaruh historis India terhadap budaya Indonesia.

Narasi seperti ini berpotensi menimbulkan resistensi. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dan memiliki identitasnya sendiri. Oleh karena itu, hubungan masa depan harus dibangun atas dasar kemitraan yang setara, bukan warisan budaya semata.

Ekosistem Bisnis yang Belum Kuat

Perusahaan India juga sering menghadapi kesulitan dalam memahami lanskap politik dan regulasi Indonesia. Dibandingkan perusahaan Jepang dan China, banyak perusahaan India dinilai masih memiliki jaringan lokal yang lebih terbatas.

Berbagai tantangan seperti proses administrasi yang lambat, keterbatasan fasilitasi bisnis, hambatan dalam pengadaan pemerintah, serta kurangnya informasi pasar masih menjadi kendala.

Selain itu, infrastruktur diplomasi ekonomi dan komersial India juga kerap dinilai masih kurang dibandingkan beberapa negara pesaing.

Mobilitas Sumber Daya Manusia

Hubungan bisnis kedua negara masih banyak didominasi oleh tingkat CEO dan manajemen senior.

Mobilitas profesional muda, peneliti, mahasiswa, perusahaan rintisan, dan tenaga kerja terampil masih relatif terbatas. Padahal, peningkatan mobilitas dapat memperkuat pemahaman dan menciptakan basis dukungan yang lebih luas bagi hubungan bilateral.

Kurangnya Proyek Unggulan

Salah satu kelemahan yang paling terlihat adalah minimnya proyek-proyek unggulan yang dapat menjadi simbol keberhasilan kerja sama.

China memiliki proyek infrastruktur. Jepang memiliki kawasan industri. Korea Selatan memiliki ekosistem manufaktur.

India memerlukan proyek serupa, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas, kolaborasi pendidikan bergaya IIT, atau pusat manufaktur farmasi.

Tanpa keberhasilan yang terlihat secara nyata, persepsi publik akan terus tertinggal dibandingkan retorika diplomatik.

Mampukah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar?

Lompatan besar sangat mungkin terjadi, tetapi tidak otomatis terwujud.

Keberhasilan bergantung pada kemampuan kedua negara untuk mengubah hubungan yang selama ini didasarkan pada niat baik strategis menjadi kerja sama yang menghasilkan capaian konkret.

Tiga prioritas menjadi sangat penting.

Pertama, membangun kemitraan teknologi dan digital yang komprehensif dengan fokus pada kecerdasan buatan, infrastruktur digital publik, dan inovasi.

Kedua, menciptakan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga kemitraan India-Indonesia dapat menjadi salah satu pilar stabilitas Indo-Pasifik.

India dan Indonesia saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat jarang terjadi. Keduanya memiliki kepentingan dalam kepemimpinan Global South, keamanan maritim, ketahanan pangan dan energi, serta pengembangan teknologi masa depan.

Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis.

Apakah hubungan India dan Indonesia dapat mengalami lompatan besar akan lebih ditentukan oleh implementasi dibandingkan deklarasi.

Apabila kedua negara mampu mengatasi kesenjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, serta menghadirkan proyek-proyek unggulan yang nyata, maka kemitraan India dan Indonesia berpotensi menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus model kerja sama Global South yang praktis dalam dekade mendatang.

*Gurjit Singh adalah Mantan Duta Besar India untuk Indonesia dan ASEAN serta penulis The Mango Flavour: India, ASEAN and the Act East Policy

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akulaku Finance Bersama BAZNAS RI Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Masyarakat Terdampak Gempa NTT

    Akulaku Finance Bersama BAZNAS RI Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Masyarakat Terdampak Gempa NTT

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Jakarta, 16 September 2026 — PT Akulaku Finance Indonesia, turut mendukung pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui penyaluran bantuan kemanusiaan bersama Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI). Bantuan dengan total senilai Rp75 juta tersebut merupakan kontribusi bersama tiga perusahaan dalam naungan Akulaku Group, yaitu PT Akulaku Finance Indonesia, […]

  • The 12th IndoEBTKE ConEx 2026: Dorong Eksekusi Proyek Strategis dan Percepatan Investasi Energi

    The 12th IndoEBTKE ConEx 2026: Dorong Eksekusi Proyek Strategis dan Percepatan Investasi Energi

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Jakarta, 31 Agustus 2026 – METI dan MASKEEI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), para pemangku kepentingan utama sektor energi bersih, secara resmi meluncurkan penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-12, forum ini akan berlangsung pada 2–4 September 2026 di Jiexpo […]

  • Sribu dan Sudin PPAPP Jakarta Utara Dorong Perempuan Lebih Berdaya di Era Digital

    Sribu dan Sudin PPAPP Jakarta Utara Dorong Perempuan Lebih Berdaya di Era Digital

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 22
    • 0Komentar

    JAKARTA — Sekitar 60 kader PKK, kader Dasawisma, dan pengelola RPTRA Kelurahan Penjaringan mengikuti edukasi pemanfaatan teknologi dan media digital yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Kota Administrasi Jakarta Utara, Selasa (21/7/2026). Dalam kegiatan tersebut, Sribu turut membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan praktis untuk memanfaatkan dunia digital secara […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kompetensi Petani melalui Kelas Budidaya Teh

    Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kompetensi Petani melalui Kelas Budidaya Teh

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Bandung – Sebagai bagian dari komitmen mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing komoditas teh nasional, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) menyelenggarakan Kelas Belajar Budidaya Teh yang diikuti oleh petani teh rakyat dari berbagai kelompok tani di Kabupaten Bandung. Program ini bertujuan […]

  • Ekosistem EV Semakin Berkembang, BRI Finance Perkuat Solusi Pembiayaan Kendaraan Listrik

    Ekosistem EV Semakin Berkembang, BRI Finance Perkuat Solusi Pembiayaan Kendaraan Listrik

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Jakarta, 22 Juli 2026 – Perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi biaya operasional dan mobilitas yang lebih ramah lingkungan. Berbagai faktor, termasuk potensi perubahan harga bahan bakar minyak (BBM), dinilai dapat menjadi salah satu pendorong meningkatnya minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik. Corporate Secretary […]

  • Public

    Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Bandung — Kesadaran geopolitik bukan hanya milik diplomat atau pemimpin negara, tetapi kompetensi yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara, terutama generasi muda. Pesan itu disampaikan oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., kepada para mahasiswa saat memberikan Kuliah Umum bertema “Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami […]

expand_less