Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bisnis » Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Gunjan Prasad*

Jakarta — Salah satu konsekuensi tak terduga ketika membangun kehidupan di negara lain adalah tanpa disadari kita berubah menjadi seorang antropolog. Selama hampir dua belas tahun Indonesia menjadi rumah bagi keluarga kami, saya merasa cukup hanya dengan mengamati.

Baru ketika diminta menulis refleksi ini saya mulai mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan. Saya bertanya kepada teman-teman Indonesia, mencarinya di Google, bahkan bertanya kepada ChatGPT apakah bahasa Indonesia memiliki istilah untuk menggambarkan berbagai nilai yang diam-diam saya kagumi selama tinggal di sini. Sebagian memang memiliki padanan kata. Namun sebagian lainnya, seperti martabat yang tenang dalam cara masyarakat Indonesia menjalani hidup, terasa sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Tulisan ini lahir dari berbagai pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan saya di Indonesia: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah anak-anak, spiritualitas, makanan, hingga kebudayaan.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Indonesia datang jauh sebelum saya mengetahui bahwa nilai itu memiliki sebuah nama.

Pelajaran itu saya temukan di rumah.

Apabila salah satu anggota staf rumah tangga kami menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, ia akan membantu rekan lainnya tanpa diminta. Ketika ada yang sedang sakit, pekerjaan berpindah tangan begitu saja, hampir tanpa terlihat. Tidak pernah terdengar pertanyaan, “Itu tugas siapa?” Mereka hanya melihat apa yang perlu dilakukan, lalu mengerjakannya bersama. Rumah kami terasa berjalan bukan sebagai tempat kerja dengan pembagian tugas yang kaku, melainkan sebagai sebuah komunitas kecil.

Awalnya saya mengira kami hanya beruntung memiliki orang-orang yang luar biasa.

Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa yang saya saksikan sebenarnya adalah salah satu naluri budaya paling mendasar di Indonesia.

Gotong royong.

Dalam bahasa Inggris istilah ini sering diterjemahkan sebagai mutual cooperation. Namun terjemahan itu terasa terlalu kaku. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama karena seseorang meminta bantuan. Nilai itu lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan saya dan kesejahteraan Anda saling berkaitan.

Begitu saya mulai memahami maknanya, saya melihat gotong royong hadir hampir di mana-mana.

Saya menemukannya kembali di sekolah internasional tempat anak-anak kami belajar. Seperti banyak keluarga ekspatriat lainnya, kami datang dengan harapan yang tidak jauh berbeda. Kami ingin anak-anak berprestasi, menemukan bakat mereka, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sekolah tentu mendorong mereka untuk meraih prestasi. Namun pada saat yang sama, sekolah juga mengajarkan sesuatu yang lebih penting, yaitu bahwa keberhasilan tidak boleh diraih dengan mengorbankan orang lain. Di ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan seni, maupun proyek pelayanan masyarakat, anak-anak terus menerima pesan yang sama. Jika kita memiliki kesempatan untuk berhasil, maka kita juga memiliki tanggung jawab membantu orang lain berkembang bersama kita. Prestasi memang penting, tetapi memberikan ruang bagi orang lain untuk berhasil sama pentingnya.

Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah.

Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun.

Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa.

Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata.

Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus “membuktikan diri” agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Kemudian saya mengenal makna ikhlas.

Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi.

Namun, yang paling membekas justru bukan semua itu.

Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui.

Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri.

Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi.

Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem.

Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta.

Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan.

Saya juga mengira selama ini telah memahami arti sabar.

Ternyata Indonesia mengajarkan makna yang jauh lebih dalam.

Sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi keyakinan bahwa proses tidak harus selalu dipercepat. Saat membesarkan dua putra kami hingga beranjak dewasa, saya sering mengingat pelajaran tersebut. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa. Kita hanya bisa merawatnya dengan penuh kasih dan percaya bahwa semuanya akan berkembang pada waktunya sendiri.

Dan mungkin sabar selalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang paling setia: syukur.

Sabar mengajarkan kita untuk percaya pada sesuatu yang masih berproses. Syukur mengingatkan kita untuk menghargai apa yang telah kita miliki hari ini.

Setiap kali kami memulai perjalanan, sopir kami selalu mengucapkan doa singkat. Ketika kami tiba di tujuan, doa lain kembali dipanjatkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada penonton. Hanya ungkapan syukur yang sederhana.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar dalam hidup. Tiba di tujuan dengan selamat pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Pelajaran sederhana itu kini menjadi salah satu yang paling saya hargai.

Ada satu bagian yang sengaja tidak saya ceritakan di sini.

Hubungan saya dengan makanan Indonesia rasanya layak mendapat tulisan tersendiri.

Cukuplah saya katakan bahwa isi dapur kami pun perlahan berubah. Ketumbar dan jintan kini berbagi tempat dengan kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis. Berbagai resep yang dahulu saya coba karena rasa penasaran kini justru menjadi hidangan favorit keluarga, bahkan lebih sering diminta dibanding makanan yang kami nikmati sejak kecil. Tanpa saya sadari, perubahan isi dapur itu ternyata sedang menceritakan kisah yang jauh lebih besar.

Baru ketika menulis refleksi ini saya menyadari betapa dalam Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.

Kami kini sedikit lebih lambat menghakimi orang lain, sedikit lebih cepat merangkul mereka, sedikit lebih sabar, dan jauh lebih mudah bersyukur.

Mungkin memang begitulah hidup di negara lain dalam waktu yang cukup lama.

Suatu hari kita menyadari bahwa negeri itu tidak lagi sekadar tempat tinggal sementara. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan perlahan ikut membentuk siapa diri kita sebenarnya.

*Gunjan Prasad adalah penulis asal India yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 12 tahun. Melalui pengalaman hidup bersama keluarganya di Indonesia, ia banyak menulis tentang budaya, masyarakat, pendidikan, serta pengalaman lintas budaya yang memperkaya hubungan antara Indonesia dan India.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Stop Percaya Mitos! Kuliah ke Luar Negeri Nggak Selalu Mahal.

    Stop Percaya Mitos! Kuliah ke Luar Negeri Nggak Selalu Mahal.

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Global Education Fair Surabaya & Malang 2026 merupakan acara gratis dan terbuka untuk umum yang menghadirkan perwakilan universitas internasional, konsultasi pendidikan dengan biaya Rp0, serta informasi peluang beasiswa. Acara berlangsung di Surabaya pada 25 Juli dan Malang pada 26 Juli 2026, dengan seminar gratis khusus bagi pengunjung di Malang. AECC Indonesia kembali menghadirkan Global Education […]

  • Bank Raya Dukung Lala Market Vol.11, Hadirkan Pengalaman Transaksi Digital Praktis untuk Ribuan Fashion Enthusiasts

    Bank Raya Dukung Lala Market Vol.11, Hadirkan Pengalaman Transaksi Digital Praktis untuk Ribuan Fashion Enthusiasts

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Bank Raya, bank digital bagian dari BRI Group, kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong adopsi transaksi digital melalui dukungan kepada komunitas fashion dan lifestyle pada Lala Market Vol.11 yang diselenggarakan pada 3–5 Juli 2026 di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Bank Raya, bank digital bagian dari BRI Group, kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong adopsi transaksi digital melalui […]

  • Top Up EA Sports untuk Mendukung Pengembangan Tim dan Pemain

    Top Up EA Sports untuk Mendukung Pengembangan Tim dan Pemain

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Bermain game sepak bola terasa lebih seru ketika karakter yang dimainkan terus berkembang dan memiliki pemain terbaik. Setiap pemain tentu ingin membangun skuad kuat agar mampu bersaing di berbagai mode pertandingan. Salah satu cara mempercepat perkembangan tim adalah melalui top up EA Sports untuk mendapatkan item premium yang dibutuhkan. Mari simak artikel di bawah ini. […]

  • Safe Haven Kembali Diminati, Harga Emas Berpotensi Lanjut Reli

    Safe Haven Kembali Diminati, Harga Emas Berpotensi Lanjut Reli

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Pergerakan harga emas diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan pada perdagangan hari Senin (29/6). Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, kondisi pasar mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah tekanan jual yang sempat mendominasi beberapa waktu terakhir mulai berkurang. Dari sisi teknikal maupun fundamental, peluang kenaikan emas dinilai masih cukup terbuka selama […]

  • Beasiswa Gerak Tumbuh 2026 Gelombang 2 Resmi Dibuka: Rp20.000.000/Semester untuk Semua Jenjang Pendidikan Tanpa Syarat IPK

    Beasiswa Gerak Tumbuh 2026 Gelombang 2 Resmi Dibuka: Rp20.000.000/Semester untuk Semua Jenjang Pendidikan Tanpa Syarat IPK

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Gerak Tumbuh Indonesia resmi membuka pendaftaran Beasiswa Gerak Tumbuh 2026 Gelombang 2 sejak 1 Juli 2026. Pembukaan ini memberikan kesempatan tambahan bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mengikuti program bantuan pendidikan hingga Rp20.000.000 per semester. Bersamaan dengan pembukaan Gelombang 2, Gerak Tumbuh juga memperbarui jadwal pendaftaran dan seluruh tahapan seleksi program. Beasiswa Gerak Tumbuh […]

  • Dari Kota Kreatif, Mahasiswa BINUS @Bandung Bangun Bisnis Parfum dengan Ciri Khas yang Berbeda

    Dari Kota Kreatif, Mahasiswa BINUS @Bandung Bangun Bisnis Parfum dengan Ciri Khas yang Berbeda

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Bandung, 6 Juli – Di tengah berkembangnya industri gaya hidup dan personal care di Indonesia, bisnis parfum lokal menunjukkan pertumbuhan yang semakin menjanjikan. Meningkatnya minat konsumen terhadap produk parfum dengan karakter dan identitas yang kuat membuka peluang baru bagi para pelaku usaha untuk menghadirkan konsep yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar. Bagi sebagian entrepreneur muda, […]

expand_less