Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bisnis » Fortifikasi Beras Massal Jadi Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi

Fortifikasi Beras Massal Jadi Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Indonesia tengah menghadapi masalah kedaruratan senyap (silent emergency) berupa kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Dipicu oleh defisiensi zat besi kronis, kondisi ini melahirkan lonjakan angka anemia di berbagai penjuru Nusantara. Padahal, para pakar kesehatan publik menilai bahwa intervensi paling strategis untuk mengatasinya adalah lewat fortifikasi beras.

JAKARTA — Indonesia tengah menghadapi masalah kedaruratan senyap (silent
emergency
) berupa kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Dipicu oleh
defisiensi zat besi kronis, kondisi ini melahirkan lonjakan angka anemia di
berbagai penjuru Nusantara. Padahal, para pakar kesehatan publik menilai bahwa
intervensi paling strategis untuk mengatasinya adalah lewat fortifikasi beras.

Pada Rabu
(24/6/2026), inisiatif Millers for Nutrition menggelar pertemuan lintas
pemangku kepentingan di Jakarta bertajuk “Millers for Nutrition:
Advancing Fortified Rice in the Commercial Market.”
Agenda ini
bertujuan merangkul koalisi para pelaku sektor swasta guna mendiskusikan
langkah nyata dalam menghadirkan beras fortifikasi yang lebih terjangkau di
pasar terbuka bagi masyarakat luas.

Dalam pidato
kuncinya, Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia
(KFI) Nina Sarjunani menegaskan, intervensi melalui bahan pangan pokok utama
bangsa adalah jalan keluar yang paling layak untuk ditempuh.

Secara historis, upaya mengikis kekurangan
mikronutrien selama ini bertumpu pada tiga cara utama, urai Nina.

Pertama adalah
diversifikasi pangan—mengajak rumah tangga mengonsumsi variasi karbohidrat,
sayuran, dan sumber protein. Namun, meski paling ideal, diversifikasi pangan
sulit dilakukan karena tak semua kelompok masyarakat mampu membeli ragam sumber
nutrisi tersebut.

Kedua adalah
suplementasi. Walaupun sederhana, pendekatan ini juga menghadapi tantangan
karena tingkat kepatuhan konsumsi suplemen masih rendah.

“Yang
paling cost-effective adalah fortifikasi,” kata Nina.

Indonesia telah
sukses melakukan ragam fortifikasi seperti garam beryodium, tepung terigu yang
diperkaya zat besi dan seng, serta minyak goreng yang diperkaya vitamin A.

Namun, meski
tepung terigu merupakan kendaraan intervensi yang kuat, ia mengingatkan bahwa
tepung terigu bukanlah makanan pokok masyarakat Indonesia. Oleh karena itu,
Nina menilai fokus fortifikasi harus dialihkan ke komoditas berikutnya, yaitu
beras, mengingat bahan pangan tersebut dikonsumsi oleh 95 persen penduduk di
dalam negeri.

Fortifikasi beras merupakan bentuk intervensi
yang minim hambatan (low-friction), lanjutnya, karena tidak menuntut
perubahan perilaku makan masyarakat. Warga tetap memasak dan makan nasi seperti
biasa, tetapi mendapatkan tambahan zat besi dan mikronutrien penting lainnya
secara signifikan. Lonjakan pemenuhan gizi (nutrition gain) yang
dihasilkan bisa sangat masif, hanya dengan margin kenaikan biaya produksi
sekitar Rp 1.000 per kilogram.

Tantangan Hulu-Hilir

Meski menjanjikan manfaat yang nyata, upaya
memperluas skala beras fortifikasi di bentang geografis Indonesia yang luas
menghadang tantangan operasional. Hal itu diungkapkan oleh Budianto Wijaya,
anggota komite penasihat (advisory member) Millers for Nutrition.

Sektor penggilingan padi di Indonesia sangat
terfragmentasi, melibatkan banyak operator mulai dari fasilitas industri skala
besar hingga penggilingan kecil di pedesaan. Realitas ini membuat penyelarasan
regulasi, standarisasi pengawasan mutu, dan keseragaman distribusi menjadi
tantangan tersendiri.

Saat ini, beras
fortifikasi masih menjadi barang mewah yang ceruk pasarnya terbatas, dikemas
sebagai produk khusus di rak-rak supermarket premium dan lebih banyak dijangkau
kelompok ekonomi tertentu.

Padahal, peluang sesungguhnya untuk mengubah
tren kesehatan publik berada di tempat lain: menyasar kelompok rentan melalui
bantuan pangan pemerintah, intervensi kesehatan ibu dan anak, serta program
prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).

Terkait MBG,
pihaknya telah membicarakan agar program beras fortifikasi bisa masuk. Selama
ini, garam dan minyak goreng yang digunakan dalam program MBG sudah
terfortifikasi.

Menepis Mitos
Modern

Di luar persoalan
logistik, strategi ini harus berhadapan dengan tantangan persepsi publik dan
penataan pasar. Nina menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat masih sangat
rendah, membuat pasar rentan terhadap disinformasi—termasuk hoaks viral terkait
isu “beras plastik” yang sempat merusak kepercayaan konsumen.

Selain itu, harga
juga masih menjadi isu sensitif. Selama ini beras fortifikasi kerap
dikategorikan sebagai beras khusus dengan bahan baku beras premium, sehingga
harganya relatif mahal.

Pembangunan
industri FRK (Fortified Rice Kernels), memperkuat penggilingan dan
membuka jalan distribusi komersial menjadi salah satu usulan dari panel yang
terdiri dari pelaku industri beras.

Forum yang
berlangsung hari Rabu ini berupaya menjembatani kesenjangan tersebut,
mempertemukan pelaku penggilingan padi, ritel modern, dan pegiat fortifikasi
gizi dalam satu atap. “Saya yakin bahwa dengan acara hari ini, permasalahan itu
baik teknis maupun nonteknis, bisa sama-sama kita diskusikan, sehingga bisa
kita atasi,” tutur Nina.

Evelyn Djuwidja, Program Manager TechnoServe
Indonesia—organisasi yang saat ini menjalankan inisiatif Millers for
Nutrition—memandang pertemuan multi-sektor ini sebagai langkah awal yang vital.

“Forum ini telah membuka peluang besar bagi
rekan-rekan RMU (Rice Milling Units/penggilingan padi) dan ritel modern
untuk saling bekerja sama,” ujarnya.

“Millers for Nutrition berkomitmen untuk terus
mendampingi penggilingan padi dalam menjaga kualitas gizi produk, membantu
efisiensi produksi, dan memfasilitasi hubungan bisnis agar kerja sama dengan
ritel modern dapat berjalan dengan lancar, sehat, dan saling menguntungkan
dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • BRI Finance Permudah Masyarakat Palembang dan Jambi Temukan Solusi Pembiayaan Kendaraan di BRI KKB Expo

    BRI Finance Permudah Masyarakat Palembang dan Jambi Temukan Solusi Pembiayaan Kendaraan di BRI KKB Expo

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Palembang, 10 Juli 2026 – Memilih kendaraan yang tepat kini tidak hanya bergantung pada banyaknya pilihan unit, tetapi juga kemudahan dalam mendapatkan skema pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”), bagian dari BRI Group, menghadirkan BRI KKB Expo 2026 sebagai wadah bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai pilihan pembiayaan kendaraan […]

  • Pemerintah Kembangkan Industri Intermediate Mineral, Regulasi dan Insentif jadi Tantangan.

    Pemerintah Kembangkan Industri Intermediate Mineral, Regulasi dan Insentif jadi Tantangan.

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 5
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kepastian regulasi serta jaminan insentif fiskal menjadi kunci utama bagi Pemerintah dalam mendorong pengembangan industri antara (intermediate industry) dan material lanjut (advanced materials) di Indonesia. Langkah ini mendesak dilakukan agar potensi hilirisasi mineral nasional tidak terhenti pada produk setengah jadi, melainkan mampu menembus industri manufaktur strategis bernilai tambah tinggi. Padahal, Indonesia memiliki keunggulan […]

  • Wujudkan Pelayanan Prima, BRI Selenggarakan Program CX 100 Bagi Nasabah Pensiunan di BO Otista

    Wujudkan Pelayanan Prima, BRI Selenggarakan Program CX 100 Bagi Nasabah Pensiunan di BO Otista

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 11
    • 0Komentar

    JAKARTA, 01 JULI 2026 – Sebagai wujud apresiasi tertinggi terhadap loyalitas para nasabah senior, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menggelar program CX 100 (Apresiasi Nasabah Pensiunan BRI). Kegiatan yang berlangsung meriah ini bertempat di BRI Branch Office (BO) Otista dan dihadiri oleh 100 orang nasabah pensiunan pilihan, termasuk salah satunya adalah aktor senior Pong […]

  • Bank Raya Perkuat Inklusi Keuangan Digital, Raih Best Bank Awards 2026

    Bank Raya Perkuat Inklusi Keuangan Digital, Raih Best Bank Awards 2026

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Sebagai digital attacker BRI Group, Bank Raya kembali menorehkan prestasi melalui inovasi berkelanjutan pada berbagai produk perbankan digitalnya yang mampu menghadirkan solusi pembiayaan digital yang inklusif. Atas komitmen tersebut, Bank Raya meraih penghargaan Best Bank 2026 dari Investor Trust dalam kategori The Social Financing Excellence Award. Sebagai digital attacker BRI Group, Bank Raya kembali menorehkan […]

  • Lengkapi Koleksi Commander dan Skin dengan Top Up Magic Chess

    Lengkapi Koleksi Commander dan Skin dengan Top Up Magic Chess

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Lengkapi Koleksi Commander dan Skin dengan Top Up Magic Chess  Bagi pemain Magic Chess, memiliki commander favorit dan skin keren bisa membuat pengalaman bermain terasa lebih seru. Selain mempercantik tampilan akun, berbagai item premium juga membantu progres permainan menjadi lebih maksimal. Top up menjadi solusi praktis untuk mendapatkan diamonds dengan cepat tanpa harus menunggu resource […]

  • BP Tapera Paparkan Skema KPR Subsidi Tenor 40 Tahun, Cicilan Bisa Mulai Rp500 Ribu per Bulan

    BP Tapera Paparkan Skema KPR Subsidi Tenor 40 Tahun, Cicilan Bisa Mulai Rp500 Ribu per Bulan

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Selain membahas tenor 40 tahun, rapat juga menyoroti pentingnya pengembangan rumah susun sebagai salah satu solusi penyediaan hunian di kawasan perkotaan. Pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai regulasi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam kesempatan yang sama mendorong agar BP Tapera terus memperkuat kerja sama dengan kalangan pekerja dan buruh. […]

expand_less